Pemanfaatan Maggot sebagai Bagian Sistem Zero Waste Agrosari
Mengelola perternakan ayam bukan hanya sekadar panen telur. Dalam aktivitasnya, peternakan ayam memiliki beragam hasil sampingan yang bisa saja berpotensi sebagai waste atau sampah. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pengelolaan material organik seperti litter berupa sekam, sisa pakan, hingga limbah kotoran.
Zero Waste Bagi Peternakan
Bhat dkk (2020) menjelaskan penerapan sistem zero waste terjadi pada beragam industri. Hal ini disebabkan atas kesadaran bahwa adanya isu lingkungan dimana bumi semakin tua dan bisa saja rusak. Sistem ini berusaha mengelola sumber daya dengan mengurangi hasil limbah sekaligus memaksimalkan kembali material yang masih memiliki nilai.
Dalam kegiatan peternakan ayam, terdapat berbagai material organik yang membutuhkan pengelolaan. Apabila tidak ditangani dengan baik, material organik tersebut dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Karena itu, diperlukan sistem yang tidak hanya berfokus pada pembuangan, tetapi juga mencari peluang untuk memanfaatkan kembali material tersebut
Maggot vs Lalat
Salah satu upaya mewujudkan sistem zero waste di peternakan ayam adalah penggunaan maggot. Maggot merupakan larva lalat namun berbeda dengan lalat rumah. Apabila lalat rumah (Musca domestica) dikenal sebagai serangga yang membawa penyakit, lalat Black Soldier Fly (BSF) memiliki karakteristik yang berbeda.
Pada fase larva, BSF justru aktif mengonsumsi bahan organik sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhannya. Sementara ketika telah menjadi lalat dewasa, BSF tidak memiliki alat mulut yang berfungsi untuk makan sehingga tidak berperilaku seperti lalat rumah yang mencari dan mengonsumsi makanan.
Cara Kerja Maggot dalam Sistem Zero Waste
Sistem kerja maggot dimulai dari memilih material organik yang sesuai sebagai sumber pakan maggot. Material tersebut kemudian diberikan kepada larva BSF untuk dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan pemeliharaannya. Dikutip dari Unair News, 1 kilogram maggot mampu menghabiskan 2 hingga 5 kg sampah organik dalam 24 jam. Dalam proses ini, sebagian material dikonversi menjadi biomassa larva. Setelah mencapai tahap perkembangan tertentu, maggot dapat dipanen dan dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya.
Maggot memberikan nilai tambah karena material organik yang berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan sebagai bagian proses budidaya maggot. Maggot juga dapat dimanfaatkan kembali menjadi pakan ternak. Sebab itulah, pengelolaan limbah menjadi efektif dan sesuai dengan tujuan zero waste.
(tabita-marcomm)