Mengapa Harga Telur Ayam Sering Berubah?
Kita kadang menemukan bahwa harga telur berbeda dari pembelian sebelumnya. Hal ini memang benar sebab harga telur ayam tidak sama setiap harinya. Sama seperti komoditas pangan lainnya, harga telur hari ini dipengaruhi oleh berbagai faktor mulai dari produksi hingga permintaan pasar.
Harga Telur Naik Turun?
Mengutip dari Mas Pandhita, harga telur pada paruh pertama 2026 sangat fluktuatif. Berdasarkan data yang dikumpulkan, harga telur ayam berkisar pada Rp. 29.600,- hingga Rp. 26.600,- selama periode Januari- Juni 2026. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kurun waktu singkat harga telur tidak stabil atau sama.
Perubahan harga telur ayam terjadi karena adanya dinamika produksi dari peternakan ayam dengan kebutuhan konsumen. Misalnya, ketika permintaan telur meningkat, harga bisa saja mengalami kenaikan. Faktor eksternal seperti menurunnya daya beli, kenaikan harga pakan, hingga biaya distribusi juga bisa mempengaruhi harga telur hari ini.
Baca Juga: Mengapa Surplus Telur Bisa Sebabkan Harga Anjlok
Faktor Fluktuasi Harga Telur
Perubahan harga pada telur ayam disebabkan oleh berbagai faktor. Oleh karena itu, penting untuk memahaminya sebagai dinamika rantai pasok pangan.
Supply and Demand
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi harga telur ayam adalah keseimbangan antara kebutuhan pasar dan ketersediaan produk (Saptana & Ilham, 2019). Salah satu contoh peningkatan permintaan dapat dilihat dari kebutuhan telur ayam untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika permintaan tidak diimbangi dengan ketersediaan, maka hal ini mampu memberikan dampak terhadap harga telur.
Kenaikan Harga Pakan dan DOC
Faktor lain yang mempengaruhi adalah biaya produksi. Biaya produksi pada peternakan ayam petelur salah satunya pakan dan bibit ayam muda (DOC). Pakan menjadi kebutuhan utama ayam agar mampu berproduksi. Sedangkan day old chick (DOC) mempengaruhi biaya yang diperlukan untuk menyiapkan populasi ayam petelur dalam siklus produksi berikutnya.
Biaya Distribusi
Setelah dihasilkan di peternakan, telur memerlukan proses distribusi untuk sampai kepada konsumen. Proses ini juga membutuhkan biaya yang beragam sesuai dengan lokasi tujuan. Sebagai contoh, harga telur ayam di Pulau Jawa dapat berbeda dengan harga di wilayah luar Jawa.
Naik turunnya harga telur dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari permintaan dan pasokan, biaya pakan, produktivitas peternakan ayam, hingga distribusi. Karena itu, harga yang diterima konsumen merupakan hasil dari rangkaian proses panjang sejak telur diproduksi hingga sampai ke pasar.
(tabita-marcomm)